Skrining Atlet menggabungkan pemeriksaan kesiapan fisiologis dan kesiapan mental dalam satu platform digital — supaya atlet dan pelatih tahu persis kondisi sebenarnya sebelum hari pertandingan, bukan sesudahnya.
Performa di lapangan ditentukan tubuh yang siap bertanding sekaligus pikiran yang tenang dan fokus. Skrining Atlet mengukur keduanya sebelum hari-H, supaya hal yang selama ini tidak terlihat — kecemasan, kelelahan, atau cedera yang belum pulih — bisa terdeteksi lebih awal.
Mengukur kesiapan fisik lewat indikator kapasitas kardiorespirasi, komposisi tubuh, kekuatan otot, fleksibilitas, riwayat cedera, dan kualitas pemulihan.
Mengukur kesiapan psikologis menjelang kompetisi: kecemasan bertanding, kepercayaan diri, fokus, regulasi emosi, motivasi, dan ketangguhan mental.
Empat tahap sederhana, bisa diselesaikan atlet dalam satu sesi sebelum latihan atau pertandingan.
Atlet mengisi data diri, cabang olahraga, dan menyetujui persetujuan penggunaan data sebelum mulai.
Menjawab skrining fisiologis (input hasil tes) dan skrining kesiapan mental (kuesioner singkat), masing-masing sekitar 10 menit.
Sistem langsung menghitung skor tiap dimensi dan skor komposit begitu skrining selesai diisi.
Pelatih dan tim menerima laporan untuk menentukan atlet yang perlu pemantauan atau pendampingan lebih lanjut.
Skrining Atlet dikembangkan sebagai kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PKM), hasil kolaborasi Program Studi Ilmu Keolahragaan dan Program Studi Gizi (Tim Bimbingan Konseling FIKES), Universitas Singaperbangsa Karawang.